A.
Sejarah dan deskripsi
Buah naga dikelompokan kedalam keluarga
tanaman kaktus. Meskipun dikenal sebagai buah dari Asia, tanaman ini aslinya
berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Pada tahun 1870,
bangsa Perancis membawa buah naga dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias.
Karena rasanya manis, buah naga kemudian dikonsumsi secara meluas di Vietnam
dan Cina.
Buah Naga terdiri dari akar, batang,
duri, bunga, dan buah. Akar buah naga hanyalah akar serabut yang berkembang
dalam tanah pada batang atas sebagai akat gantung. Akar tumbuh sepanjang batang
pada bagian punggung sirip di sudut batang. Pada bagian duri, akan tumbuh binga
yang bentuknya mirip bunga Wijayakusuma.
Bunga yang tidak rontok berkembang menjadi buah. Buah naga bentuknya bulat agak
lonjong seukuran dengan buah alpukat. Kulit buahnya berwarna merah menyala untuk
jenis buah naga putih dan merah, berwarna merah gelap untuk buah naga hitam,
dan berwarna kuning unutk buah naga kuning. Disekujur kulit dipenuhi dengan
jumbai-jumbai yang dianalogikan dengan sisik naga. Oleh sebab itu, buah ini
disebut Buah Naga.
Batang da bentuknya segitiga, durinya
sangat pendek dan tidak mencolok, sehingga sering dianggap “ kaktus tak
berduru”. Bunganya mekar pada awal senja jika kuncup bunga sudah berukuran 3
cm. Mahkota bunga bagian luar yag
berwarna krem, mekar sekitar pukul sembilan malam, lalu disusul mahkota bagian
dalam yang putih bersih, mliputi sejumlah benang sari yang berwarna kuning.
Bunga seperti corong itu akhirnya terbuka penuh, bunga nagamenyebar bau yang
harum. Aroma ini untuk memikat kelelawar, agar menyerbuki bunga buah naga.
Di Indonesia, buah naga mulai populer
sejak tahun 2000. Tidak jelas benar siapa yang pertama kali mengembangkannya.
Diperkirakan buah naga yang masuk ke negeri kita berasal dari Thailand dan
dibudidayakan oleh para pehobi tanaman secara sporadis.
Saat ini terdapat beberapa spesies
tanaman buah naga yang banyak dibudidayakan. Jenis-jenisnya buah populer yaitu:
·
Hylocereus undatus kulitnya merah dengan daging
buah putih
·
Hylocereus polyrhisus kulit merah dengan daging
buah merah
·
Hylocereus costaricensis kulit merah dengan
daging buah merah pekat agak keunguan
·
Hylocereus megelanthus kulitnya berwarna kuning
dengan daging buah putih.
Budidaya buah naga sangat cocok dengan
kondisi iklim dan alam Indonesia. Tanaman ini tumbuh optimal pada ketinggian
0-350 meter dpl dengan curah hujan sekitar 720 mm per tahun. Suhu udara ideal
bagi pertumbuhan buah naga berkisar 26-36 C.
B.
Memilih bibit buah naga
Tanaman buah naga bisa diperbanyak dengan
cara generatif dan vegetatif. Cara generatif yaitu memperbanyak tanaman dari
biji. Benih diambil dengan cara mengeluarkan biji dari buah naga terpilih. Cara
ini sedikit sulit dan biasanya dilakukan oleh para penangkar berpengalaman.
Cara vegetatif relatif lebih banyak
dipakai karena lebih mudah. Budidaya buah naga dengan cara vegetatif lebih
cepat menghasilkan buah. Selain itu, sifat-sifat tanaman induk bisa dipastikan
menurun pada anaknya. Berikut ini langkah-langkah penyetekkan buah naga:
Penyetekkan dilakukan terhadap batang
atau cabang tanaman yang pernah berbuah, setidaknya 3-4 kali. Hal ini berguna
agar hasil setek bisa berproduksi lebih cepat dan produktivitasnya sudah
ketahuan dari hasil buah terdahulu.
Pilih batang yang berdiameter setidaknya
8 cm, keras, tua, berwarna hijau kelabu dan sehat. Semakin besar diameter
batang akan semakin baik, karena batang tersebut akan jadi batang utama
tanaman.
Pemotongan dilakukan terhadap batang yang
panjangnya sekitar 80-120 cm. Jangan dipotong semua, sisakan sekitar 20%,
bagian yang 80% akan dijadikan calon bibit.
Potong-potong batang calon bibit dengan
panjang sekitar 20-30 cm. Ujung bagian atas dipotong rata, sedangkan pangkal
bawah yang akan ditancapkan ke tanah dipotong meruncing. Gunanya untuk
merangsang pertumbuhan akar.
Potongan setek harus memiliki setidaknya
4 mata tunas. Panjang setek bisa lebih pendek namun konsekuensinya akan
berpengaruh pada kecepatan berbuah.
Biarkan batang setek yang telah
dipotong-potong tersebut hingga getahnya mengering. Apabila langsung ditanam
getah yang masih basah bisa menyebabkan busuk batang. Untuk menghindari resiko
serangan jamur batang setek bisa di celupkan pada larutan fungisida.
Siapkan bedengan atau polybag untuk
menanam setek-setek tersebut. Untuk campuran tanah atau media tanamnya silahkan
lihat cara membuat media persemaian.
Siram bedengan atau polybag yang telah
diisi dengan media tanam. Kemudian tancapkan bagian yang runcing dari setek
kedalam media tanam sedalam 5 cm.
Berikan naungan atau sungkup untuk
melindungi setek tersebut. Lakukan penyiraman sebanyak 2-3 hari sekali.
Setelah 3 minggu, tunas pertama mulai
tumbuh dan naungan atau sungkup harus dibuka agar bibit mendapatkan cahaya
matahari penuh.
Pemeliharaan bibit biasanya berlangsung
hingga 3 bulan. Pada umur ini tinggi bibit berkisar 50-80 cm.
C.
Persiapan penanaman buah naga
Kebutuhan bibit untuk budidaya buah naga
seluas satu hektar sekitar 6000-1000 bibit. Jumlah bibit yang diperlukan
tergantung pada metode tanam dan pengaturan jarak tanam. Kali ini alamtani
membahas metode budidaya buah naga dengan tiang panjat tunggal. Dengan sistem
ini dibutuhkan tiang panjat sebanyak 1600 batang dengan kebutuhan bibit tanaman
sebanyak 6400 bibit per hektar.
1.
Pembuatan tiang panjat
Dalam budidaya buah naga tiang panjat
sangat diperlukan untuk menopang tumbuhnya tanaman. Tiang panjat biasanya
dibuat permanen dari beton. Bentuk tiangnya bisap pilar segi empat atau
silinder dengan diameter sekitar 10-15 cm.
Tinggi tiang panjat untuk budidaya buah
naga biasanya 2-2,5 meter. Tiang tersebut ditanam sedalam 50 cm agar kuat
berdiri. Di ujung bagian atas diberikan penopang berupa batang kayu atau besi
membentuk ‘+’. Kemudian tambahkan besi berbentuk lingkaran atau bisa juga ban
motor bekas. Sehingga bagian ujung atasnya berbentuk seperti stir mobil.
Buatlah tiang panjat tersebut secara
berbaris, jarak tiang dalam satu baris 2,5 meter sedangkan jarak antar baris 3
meter. Jarak ini juga sekaligus menjadi jarak tanam. Di antara barisan buat
saluran drainase sedalam 25 cm.
2.
Pengolahan tanah
Setelah tiang panjat disiapkan, buatlah
lubang tanam dengan ukuran 60×60 cm dengan kedalaman 25 cm. Posisi tiang panjat
persis terletak ditengah-tengah lubang tanam tersebut.
Campurkan 10 kg pasir dengan tanah galian
untuk menambah porositas tanah. Tambahkan pupuk kompos atau pupuk kandang yang
telah matang sebanyak 10-20 kg. Tambahkan juga dolomit atau kapur pertanian
sebanyak 300 gram, karena buah naga
memerlukan banyak kalsium. Aduk bahan-bahan tersebut hingga merata.
Timbun kembali lubang tanam dengan
campuran media di atas. Kemudian siram dengan air hingga basah tapi jangan
sampai tergenang. Biarkan lubang tanam yang telah ditimbun kembali tersinari
matahari dan mengering.
Setelah 2-3 hari, berikan pupuk TSP
sebanyak 25 gram. Pemberian pupuk melingkari tiang panjat dengan jarak sekitar
10 cm dari tiang. Biarkan selama kurang lebih 1 hari. Kini lubang tanam siap
untuk ditanami.
D.
Penanaman bibit buah naga
Untuk satu tiang panjat dibutuhkan 4
bibit tanaman buah naga. Bibit ditanam mengitari tiang panjat, jarak antar
tiang panjat dengan bibit tanaman sekitar 10 cm. Bibit dipindahkan dari bedeng
penyemaian atau polybag. Gali tanah sedalam 10-15 cm, atau disesuaikan dengan
ukuran bibit. Kemudian bibit diletakkan pada galian tersebut dan ditimbun
dengan tanah sambil dipadatkan.
Setelah ke-4 bibit ditanam, ikat batang
bibit tanaman tersebut sehingga menempel pada tiang panjat. Lakukan pengikatan
setiap tanaman tumbuh menjulur sepanjang 20-30 cm. Pengikatan jangan terlalu
kencang untuk memberi ruang gerak pertumbuhan tanaman dan agar tidak melukai
batang.
E.
Pemupukan dan perawatan
1.
Pemupukan
Pada masa awal pertumbuhan pupuk yang
dibutuhkan harus mengandung banyak unsur nitrogen (N). Pada fase berbunga atau
berbuah gunakan pupuk yang banyak mengandung fosfor (P) dan kalium (K).
Pemakaian urea tidak dianjurkan untuk memupuk buah naga, karena sering
mengakibatkan busuk batang.
Pemupukan dengan pupuk kompos atau pupuk
kandang dilakukan setiap 3 bulan sekali dengan dosis 5-10 kg per lubang tanam.
Pada saat berbunga dan berbuah berikan pupuk tambahan NPK dan ZK masing-masing
50 dan 20 gram per lubang tanam. Pada tahun berikutnya perbanyak dosis
pemberian pupuk sesuai dengan ukuran tanaman. Pupuk tambahan berupa pupuk
organik cair, pupuk hayati atau hormon perangsang buah bisa diberikan untuk
memaksimalkan hasil.
2.
Penyiraman
Penyiraman bisa dilakukan dengan
mengalirkan air pada parit-parit drainase. Selain itu juga bisa menggunakan
gembor atau irigasi tetes. Sistem irigasi tetes lebih hemat air dan tenaga kerja
namun perlu investasi yang cukup besar.
Penyiraman dengan parit drainase
dilakukan dengan merendam parit selama kurang lebih 2 jam. Bila penyiraman
dilakukan dengan gembor, setiap lubang tanam disiram dengan air sebanyak 4-5
liter. Frekuensi penyiraman 3 kali sehari di musim kering, atau sesuai dengan
kondisi tanah.
Penyiraman bisa dikurangi atau dihentikan
ketika tanaman mulai berbunga dan berbuah. Pengurangan atau penghentian
penyiraman bertujuan untuk menekan pertumbuhan tunas baru sehingga pertumbuhan
buah bisa maksimal. Penyiraman tetap dilakukan apabila tanah terlihat kering
dan tanaman layu karena kurang air.
F.
Pemangkasan
Terdapat setidaknya tiga tipe pemangkasan
dalam budidaya buah naga, yakni pemangkasan untuk membentuk batang pokok,
pemangkasan membentuk cabang produksi dan pemangkasan peremajaan.
Pemangkasan untuk membentuk batang pokok
dilakukan pada batang bibit tanaman. Tanaman yang baik memiliki batang pokok
yang panjang, besar dan kokoh. Untuk mendapatkan itu pilih tunas yang tumbuh di
bagian paling atas batang awal. Tunas yang tumbuh dibawahnya sebaiknya dipotong
saja.
Pemangkasan untuk membentuk cabang
produksi dilakukan pada tunas yang tumbuh pada batang pokok. Pilihlah 3-4 tunas
untuk ditumbuhkan. Nantinya tunas ini akan menjadi batang produksi dan tumbuh
menjuntai ke bawah. Tunas yang ditumbuhkan sebaiknya yang ada di bagian atas,
sekitar 30 cm dari ujung atas.
Pemangkasan peremajaan dilakukan terhadap
cabang produksi yang kurang produktif. Biasanya sudah berbuah 3-4 kali. Hasil
pangkasan peremajaan ini bisa dijadikan sumber bibit tanaman.
Hal yang perlu diperhatikan dalam
pemangkasan adalah bentuk tanaman. Biasanya tanaman buah naga tumbuh tidak
teratur. Upayakan agar tunas-tunas yang dipilih bisa membentuk tanaman dengan
baik. Sehingga percabangan tidak terlalu rimbun dan batang yang ada dibawah
tajuk bisa terkena sinar matahari dengan maksimal.
G.
Pemanenan
Tanaman buah naga berumur panjang. Siklus
produktifnya bisa mencapai 15-20 tahun. Budidaya buah naga mulai berbuah untuk
pertama kali pada bulan ke 10 hingga 12 terhitung setelah tanam. Namun apabila
ukuran bibit tanamannya lebih kecil, panen pertamanya bisa mencapai 1,5-2 tahun
terhitung setelah tanam. Produktivitas pada panen pertama biasanya tidak
langsung optimal.
Satu tanaman biasanya menghasilkan 1 kg
buah. Dalam satu tiang panjat terdapat 4 tanaman. Berarti dengan jumlah tonggal 1600 dalam satu hektar
akan dihasilkan sekitar 6-7 ton buah naga sekali musim panen. Usaha budidaya
buah naga yang sukses bisa menghasilkan lebih dari 50 ton buah per hektar per
tahun.
Ciri-ciri buah yang siap panen adalah
kulitnya sudah mulai berwarna merah mengkilap. Jumbai buah berwarna kemerahan,
warna hijaunya sudah mulai berkurang. Mahkota buah mengecil dan pangkal buah
menguncup atau berkeriput. Ukuran buah membulat dengan berat sekitar 400-600
gram.
DEMIKIAN ULASANYA, udah banyak tapi
rasanya masih ada yang kurang ya, J he he. Artikel tentang kandungan buah naga,
dan khasiat buah naga bagi kesehatan udah terbit diartikel lain lho. Adapun
kalau masih ada yng perlu diketahui tentang budidaya atau yag lainya,
tinggalkan pesan dikomentar ya. Insyaallah akan segera diterbitkan. Semoga
bermanfaat.TERIMAKASIH….



Tidak ada komentar:
Posting Komentar